Transaksi QRIS Melonjak 108 Persen pada April 2026

Transaksi QRIS Melonjak 108 Persen pada April 2026

akubank-nusantara, Bank Indonesia mencatat pertumbuhan signifikan pada Transaksi QRIS digital nasional sepanjang April 2026. Peningkatan ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin aktif menggunakan layanan pembayaran digital dalam aktivitas sehari-hari.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyampaikan bahwa frekuensi transaksi digital mencapai 5,15 miliar transaksi. Jumlah tersebut tumbuh 42,86 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy).

baca juga: Harga Pangan 24 April 2026: Telur Rp32 Ribu, Bawang Turun

QRIS Jadi Pendorong Utama Pertumbuhan

Salah satu pendorong terbesar pertumbuhan transaksi digital berasal dari penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS. Volume transaksi QRIS tercatat melonjak hingga 108,43 persen yoy.

Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin nyaman menggunakan metode pembayaran non-tunai. Selain praktis, QRIS juga memudahkan transaksi di berbagai sektor usaha, mulai dari pedagang kecil hingga pusat perbelanjaan modern.

Deputi Gubernur BI, Filianingsih Hendarta, menjelaskan bahwa hingga April 2026 jumlah transaksi QRIS telah mencapai 7,83 miliar transaksi. Angka tersebut mendekati target tahunan yang dipatok sebesar 17 miliar transaksi.

Jumlah Merchant dan Pengguna Terus Bertambah

Peningkatan transaksi QRIS juga didukung oleh bertambahnya merchant dan pengguna. Saat ini, jumlah merchant QRIS telah mencapai 45,3 juta dari target 47 juta merchant sepanjang tahun.

Selain itu, jumlah pengguna QRIS sudah menyentuh angka 63 juta pengguna dari target 70 juta pengguna. Perkembangan ini memperlihatkan bahwa sistem pembayaran digital semakin diterima oleh masyarakat luas.

Banyak pelaku usaha kecil kini menggunakan QRIS karena sistem ini mempermudah transaksi tanpa memerlukan perangkat mahal. Konsumen juga dapat melakukan pembayaran hanya melalui ponsel pintar mereka.

Mobile Banking dan Internet Banking Ikut Tumbuh

Selain QRIS, transaksi melalui mobile banking dan internet banking juga mencatat pertumbuhan positif. Volume transaksi mobile banking tumbuh 15,92 persen yoy, sedangkan internet banking meningkat 22,95 persen yoy.

Kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin mengandalkan layanan digital untuk berbagai kebutuhan finansial. Aktivitas seperti transfer uang, pembayaran tagihan, hingga pembelian produk kini lebih sering dilakukan secara online.

BI-FAST Catat Pertumbuhan Signifikan

Dari sisi infrastruktur pembayaran, sistem BI-FAST juga mencatat peningkatan transaksi yang cukup besar. Volume transaksi ritel melalui BI-FAST mencapai 490 juta transaksi atau tumbuh 46,09 persen yoy.

Nilai transaksi yang diproses melalui sistem ini mencapai Rp1.219 triliun pada April 2026. Pertumbuhan tersebut memperlihatkan bahwa layanan transfer cepat semakin menjadi pilihan utama masyarakat dan pelaku bisnis.

BI Naikkan Suku Bunga Acuan

Di tengah pertumbuhan transaksi digital, Bank Indonesia juga mengambil langkah kebijakan moneter dengan menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen.

Selain BI Rate, suku bunga deposit facility naik menjadi 4,25 persen dan lending facility menjadi 6 persen. Kebijakan ini dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Menurut Perry Warjiyo, keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan kondisi ekonomi global dan domestik, termasuk dampak gejolak geopolitik dunia.

Stabilitas Rupiah Jadi Prioritas

Kenaikan suku bunga dilakukan sebagai langkah menjaga stabilitas rupiah yang sebelumnya sempat melemah hingga menyentuh Rp17.700 per dolar AS.

Bank Indonesia menilai tekanan global, termasuk konflik di Timur Tengah, berpotensi memengaruhi pasar keuangan dan nilai tukar. Oleh sebab itu, kebijakan moneter diperketat agar inflasi tetap terkendali.

Selain menjaga stabilitas nilai tukar, langkah ini juga bertujuan mempertahankan inflasi agar tetap berada dalam target pemerintah sebesar 2,5 ยฑ 1 persen pada 2026 dan 2027.

Digitalisasi Pembayaran Terus Berkembang

Pertumbuhan transaksi digital menunjukkan bahwa transformasi sistem pembayaran di Indonesia berjalan semakin cepat. Masyarakat kini lebih terbiasa menggunakan layanan cashless dalam berbagai aktivitas.

Kemajuan teknologi finansial, dukungan perbankan, serta perluasan jaringan QRIS menjadi faktor utama yang mendorong perubahan tersebut. Ke depan, sistem pembayaran digital diperkirakan akan terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap transaksi yang cepat, aman, dan efisien.

baca juga: Gautam Adani Setuju Bayar Denda Selesaikan Kasus di AS