akubank-nusantara Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara masih menunggu kelanjutan hasil lelang lahan untuk pengembangan proyek Kampung Haji di Makkah, Arab Saudi.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, menjelaskan bahwa proses finalisasi berjalan lebih lama dari perkiraan. Ia menyebut situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keterlambatan tersebut.
โKita lagi menunggu dari pemerintah sana (Arab Saudi). Sebenarnya kita juga mengejar. Dari sisi lot yang sudah kita bid, seharusnya sudah ada kabar, tetapi kita masih menunggu. Jadi kita terus berkomunikasi,โ ujar Pandu dalam acara Fitch Ratings Annual Indonesia Conference di Jakarta, Kamis.
baca juga: Data Ekonomi Kuartal II 2025 Diragukan, BPS Buka Suara
Dinamika Timur Tengah Pengaruhi Proses Investasi
Pandu menilai kondisi kawasan Timur Tengah saat ini turut memengaruhi proses pengambilan keputusan di Arab Saudi. Ia memahami bahwa pemerintah kerajaan saat ini lebih memprioritaskan stabilitas nasional.
โMereka juga sedang mengalami guncangan di Saudi. Jadi menurut saya, kepentingan utama mereka adalah pertahanan negara,โ katanya.
Meski demikian, Danantara tetap aktif menjaga komunikasi dengan pihak Arab Saudi untuk mempercepat proses finalisasi tender tersebut.
โKami terus mengejar komunikasi, tetapi kami juga memahami situasi di Timur Tengah yang sedang tidak stabil,โ jelasnya.
Hotel Novotel Thakher Sudah Siap Digunakan
Selain menunggu hasil tender, Danantara memastikan aset yang sudah diakuisisi, yakni Hotel Novotel Thakher Makkah, sudah dapat digunakan oleh jamaah haji Indonesia pada tahun 2026.
โSudah bisa digunakan. Ratingnya bagus, semua memberi ulasan bintang lima. Semua pengguna merasa puas,โ ujar Pandu.
Hotel tersebut menjadi bagian awal dari pengembangan kawasan Thakher yang menjadi fondasi proyek Kampung Haji.
Pengembangan Kawasan Thakher Bertahap
Danantara sebelumnya mengikuti mekanisme lelang yang dikelola Royal Commission for Makkah City and Holy Sites (RCMC). Proses tersebut mencakup beberapa kawasan strategis di sekitar Masjidil Haram.
Sebagai tahap awal, kawasan Thakher mencakup Hotel Novotel Thakher Makkah dengan sekitar 1.461 kamar di tiga menara. Selain itu, Danantara mengelola sekitar 4,4 hektare lahan pengembangan yang berjarak 2โ3 kilometer dari Masjidil Haram.
Pandu menjelaskan bahwa perusahaan mengembangkan Kompleks Haji secara bertahap. Kawasan Thakher menjadi titik awal karena asetnya sudah tersedia dan siap dikembangkan.
โKami membangun kompleks haji secara bertahap. Thakher menjadi fondasi awal, sementara kami tetap mengikuti proses lelang RCMC untuk peluang lain,โ ujarnya.
Target 6.000 Kamar untuk 22.000 Jamaah
Ke depan, Danantara menargetkan kawasan tersebut berkembang hingga sekitar 6.000 kamar. Kapasitas itu diproyeksikan mampu menampung hingga 22.000 jamaah, atau sekitar 10 persen dari total jamaah haji Indonesia setiap tahun.
Selain akomodasi, pengembangan juga mencakup ekosistem layanan jamaah secara menyeluruh. Layanan tersebut meliputi fasilitas ritel, dukungan logistik, serta berbagai kebutuhan penunjang lainnya.
Dengan demikian, Danantara ingin menghadirkan layanan haji yang lebih terintegrasi dan efisien bagi jamaah Indonesia.
Strategi Investasi Jangka Panjang
Danantara terus memantau proses lelang yang dijalankan RCMC. Proses tersebut mencakup penawaran, evaluasi teknis dan finansial, hingga seleksi investor sesuai master plan Kota Makkah.
Pandu menegaskan bahwa proyek ini merupakan strategi jangka panjang yang membutuhkan pendekatan hati-hati dan berbasis kajian mendalam.
Untuk kawasan Thakher, Danantara menjalankan investasi secara bertahap, termasuk penguatan aset awal dan belanja modal (capex) untuk pengembangan lanjutan. Perusahaan menargetkan tahap groundbreaking pada 2026, sementara operasional hotel tambahan direncanakan mulai 2029.
โFokus kami memastikan setiap langkah dilakukan secara prudent, terukur, dan memberi manfaat jangka panjang. Kompleks Haji ini kami bangun sebagai proyek strategis lintas generasi,โ tutup Pandu.
baca juga: Standarisasi Biji Kopi Jaga Kualitas Rasa Nasional







